Pengelolaan Sumberdaya Genetik Secara In Situ Dan Ek Situ Tahun 2022

Bagikan :

www.sinarsari.desa.id, sinar sari – Karya Tulis dari  Bapak Fahrol S.P.,  Mahasiswa Pasca Sarjana MIP Universitas Bangka Belitung, berkaintan dengan Pengelolaan Sumberdaya Genetik Secara In Situ Dan Ek Situ Tahun 2022.

MAKALAH

PENGELOAAN SUMBER DAYA GENETIK

Oleh: PAHROL

2092221009

Indonesia terkenal dengan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia dan dikenal sebagai Negara Megabiodiversity dan merupakan peringkat ke 3 di dunia dengan negara yang memiliki keanekaragaman yang terbanyak setelah Brazil dan Colombia, tercatat pada Mongabay Environmental News,25 April 2017. Kekayaan dan kekhasan keanekaragaman hayati (kehati) telah menjadi tulang punggung ratusan kelompok etnis yang tersebar di seluruh indonesia. Setiap kelompok etnis memiliki keanekaragaman pengetahuan tradisional yang terkait dengan pemanfaatan dan pengelolaan keanekaragaman hayahati, baik sebagai sumber bahan pangan, sumber bahan baku obat dan berbagai material yang dibutuhkan untuk hidup dan kehidupannya. Keanekaragaman hayati yang tinggi tersebut merupakan kekayaan alam yang dapat memberikan manfaat serbaguna dan mempunyai manfaat yang vital dan strategis, sebagai modal dasar pembangunan nasional serta merupakan paru – paru dunia yang mutlak dibutuhkan baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang (Suhartini, 2009).

Menurut Mentri PPN/ Kepala Bappenas 2015–2016 (Sofyan A. Djalil) bahwa keanekarageman hayati (kehati) memiliki peran serta kontribusi nyata dalam pembangunan nasional di semua bidang. Kebutuhan menempatkan kehati sebagai pilar sumber daya pembangunan ekonomi memerlukan arahan yang jelas dalam bentuk strategi nasional dan aksi yang dapat mudah diimplementasikan hingga daerah. Keunikan dan keindahan ekosistem yang tersebar di Indonesia juga menarik perhatian masyarakat dunia dan memberi sumbangan yang sangat besar bagi pertumbuhan industri pariwisata. Namun, pada kenyataanya masih banyak keindahan ekosistem yang belum terindetifikasi, dan tergali potensinya sebagai sumber penghidupan masa depan. Menurut data Bappenas

2015 hanya sekitar 50% flora yang telah teridentifikasi. Selain kurangnya informasi akan kehati untuk pembangunan nasional, Indonesia juga dihadapi oleh kehilangan kehati. Berdasarkan hasil pembahuruan data kehati yang dilakukan oleh LIPI (2014) secara umum mengindentifikasikan bahwa banyak kehati yang punah atau terancam punah tetapi masih banyak data kehati yang perlu digali dan dieksplorasi lebih dalam .

Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-lima pada dunia dalam jumlah tumbuhan terancam kepunahan yakni sebanyak 404 jenis tumbuhan. Area konservasi3 tumbuhan menjadi penting sebagai area pembudidayaan serta perlindungan akan kehidupan tanaman. Pentingnya pembangunan Taman kehati diluar kawasan hutan (ex- situ) menurut amanat UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan adalah sebagai upaya pencadangan sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati. Taman kehati dapat berupa Kebun Raya sebagai pada Peraturan Presiden Republik Indonesia tahun 2011 kebun raya didefinisikan sebagai kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ yang memilki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik atau kombinasi dari pola–pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan. Hingga saat ini pembangunan dan pengembangan kebun raya telah mencapai 30 kebun raya4 .

Sumber Daya Genetik (SDG) tanaman memiliki arti yang sangat penting dalam mendukung  pemenuhan   kebutuhan   pangan   baik   secara  langsung  maupun   tidak langsung.   Sejumlah  varietas komoditas tanaman  telah  dimanfaatkan  secara  intensif sebagai pangan, sejumlah species tanaman lainnya yang belum dimanfaatkan diketahui memiliki potensi dalam mendukung program pemuliaan tanaman. Perubahan iklim merupakan isu penting yang memiliki potensi dapat mengancam ketersediaan SDG tanaman. Pemanasan global dan bencana alam dapat memacu terjadnya erosi genetik terhadap SDG tanaman yang ada. Oleh karena itu, SDG tanaman perlu untuk dilestarikan agar dapat tersedia secara berkelanjutan dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan pangan.

Langkah awal upaya pelestarian terhadap SDG tanaman dapat dilakukan melalui serangkaian kegiatan inventarisasi dan dokumentasi data SDG tanaman, untuk selanjutnya dilanjutkan dengan kegiatan koleksi dan konservasi (pemeliharaan) baik secara in  situ (lekat  lahan)  maupun ex  situ (koleksi  di  bank  gen).  Dalam  rangka mengimplementasikan hal tersebut maka BB Biogen telah melakukan kerja sama penelitian dengan FAO dalam program kegiatan yang bertema Pengelolaan, Pengembangan  dan  Pemanfaatan  Sumber  Daya  Genetik  (SDG)  Tanaman  untuk Mendukung Ketersediaan Pangan yang Berkelanjutan.  Tujuan dari program kegiatan ini adalah untuk mendukung:  (1) Terlaksananya kegiatan pengelolaan, pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya genetik tanaman untuk ketersediaan pangan yang berkelanjutan, (2) Keberlanjutan ketersediaan sumberdaya genetik tanaman bagi peningkatan pendapatan dan gizi petani, dan (3) Tersedianya data dan informasi mengenai pengelolaan dan pengembangan sumberdaya genetik tanaman.

Konservasi Ex Situ (di luar kawasan) adalah upaya konservasi yang dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa di luar habitat alaminya dengan cara pengumpulan jenis, pemeliharaan dan budidaya (penangkaran). Tempat-tempat konservasi Ex Situ dilakukan pada tempat-tempat seperti kebun binatang, kebun botani, taman hutan raya, kebun raya, penangkaran satwa, taman safari, taman kota dan taman burung. Metode yang digunakan pada bentuk konservasi ini dengan cara memanipulasi objek yang dilestarikan untuk dimanfaatkan dalam upaya pengkayaan jenis, terutama yang hampir mengalami kepunahan dan bersifat unik.

Cara konservasi Ex-Situ dianggap sult dilaksanakan dengan keberhasialan tinggi disebabkan jenis yang dominan terhadap kehidupan alaminya  sulit beradaptasi dengan lngkungan buatan. Konservasi sendiri mencakup manajemen udara, air, tanah, mineral keorganisme hidup, hewan, termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survei, penelitian, administrasi, pendidikan, pemanfaatan dana latihan.

Contoh konservasi Ek-Situ diindonesia yaitu taman sarafari satu bentuk pelestarian untuk enjaga keanekaragaman hayati, dengan cara membuatkan suatu tempat baru yang ligkungannya dibuat semirip mungkin dengan habitat asal dari flora dan fauna tersebut. Di Indonesia pada tahun 1980 Taman Safari Indonesia Cisarua mulai dibangun dengan memanfaatkan lahan perkebunan teh seluas 50 hektar yang tak lagi produktif. Enam tahun kemudian, taman ini diresmikan sebagai taman konservasi satwa liar dan taman rekreasi di Indonesia.

Lalu pada 16 Maret 1990, taman ini dinyatakan sebagai Endangered Species Breedin Center di Indonesia. Saat ini, Taman Safari Indonesia Cisarua Bogor telah memiliki lahan seluas150 hektar dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendidikan dan rekreasi. Safari Night menjadi salah satu produk perjalanan petualangan yang populer. Taman Safari Indonesia di daerah lain yaitu Taman Safari Indonesia 2 terletak di lereng Gunung Arjuno, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, serta Taman Safari Indonesia 3 di Desa Serongga, Kecamatan Gianyar,Kabupaten Gianyar, Bali dan Batang Dolphins Center di Pantai Sigandu, Kabupaten Batang, JawaTengah.

Kebun botani adalah suatu tempat atau wadah yang mempunyai fungsi utama sebagai lembaga konservasi ex-situ yang melakukan usaha koleksi, pemeliharaan, dan penangkaran berbagai jenis tumbuhan dalam rangka membentuk dan mengembangkan habitat baru. Kebun ini juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana perlindungan dan pelestarian alam dan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana rekreasi yang sehat. Kebun botani milik negara di Indonesia memakai nama “Kebun Raya” karena ukurannya yang luas. Di bawah LIPI/negara terdapat empat kebun botani, yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Kuningan, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi (di utara Malang), dan Kebun Raya Bali di Bedugul, Bali. Puspiptek Serpong juga memiliki Kebun Botani Puspiptek Serpong. Taman Buah Mekarsari adalah kebun botani yang mengkhususkan diri bagi tanaman buah-buahan. Di Tawangmangu juga terdapat taman koleksi tanaman obat-obatan milik Balittro. Beberapa perguruan tinggi yang memiliki disiplin ilmu pertanian terdapat arboretum sebagai fasilitas yang digunakan sebagai tempat percobaan ataupun koleksi terhadap jenis-jenis pohon tertentu.

Kebun binatang adalah tempat hewan dipelihara dalam lingkungan buatan, dan dipertunjukkan kepada publik. Selain sebagai tempat rekreasi, kebun binatang berfungsi sebagai tempat pendidikan, riset, dan tempat konservasi untuk satwa terancam punah. Keputusan Menteri kehutanan No. 479 tahun 1998 menjelaskan tentang perizinan, kriteria, persyaratan, hak, dan kewajiban kebun binatang. Konservasi ini didukung dengan aktivitas kebun binatang yang mengumpulkan, mencatat, merawat, mengembang biakkan, memelihara, inventarisasi, edukasi, dan kepustakaan. Selain itu, dapat menjaga kemurnian genetik serta secara tidak langsung. Contoh kebun binatang di Indonesia yaitu Bali Zoo Park, Batu Secret Zoo (Malang), Kebun Binatang Ragunan  (Jakarta),  Bali  Safari  dan  Marine  Park  (Bali),  Kebun  Binatang  Gembira  Loka.

by.admin web Desa Sinar Sari 2022

Facebook Comments Box
Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *